Belajar Keperawatan Sampai ke Luar Negeri, Mahasiswa Karya Husada "Sekolah Lapangan" di Baguio, Filipina
Semarang — Sebanyak 48 orang, terdiri dari 45 mahasiswa Program Magister Keperawatan Universitas Karya Husada Semarang beserta 3 dosen pendamping, terbang ke Kota Baguio, Filipina, untuk menimba ilmu langsung dari kampus dan rumah sakit di sana. Kegiatan visitasi akademik internasional ini berlangsung selama lima hari, 20–24 Juli 2026, dengan tiga lokasi utama yaitu: University of Baguio, Baguio General Hospital and Medical Center (BGHMC), dan Cordillera Hospital of the Divine Grace (CHDG).
Begitu mendarat di Bandara Ninoy Aquino Philippines, rombongan dijemput oleh pihak University of Baguio dan melanjutkan perjalanan darat sekitar lima jam menuju Kota Baguio, kota pegunungan sejuk dibagian utara Filipina.
Disambut Tari Igorot dan Lagu Kebangsaan
Hari kedua jadi momen paling berkesan. Acara pembukaan di Aula Gedung Akademik University of Baguio diramaikan dengan pertunjukan Igorot Dance, tarian adat khas suku Igorot dari wilayah Cordillera yang biasa tampil di upacara adat dan pernikahan. Mahasiswa fakultas keperawatan setempat juga menyanyikan lagu kebangsaan Filipina dan duet vokal sebagai bentuk sambutan hangat.
Sebagai simbol persahabatan, mahasiswi Karya Husada mendapat cendera mata kaos dan totebag, sementara pihak kampus memberikan plakat kenang-kenangan serta sebagai bentuk kerjasama dengan University of Baguio.
Usai acara seremonial, rombongan diajak berkeliling fakultas keperawatan, mulai dari ruang belajar, laboratorium, hingga ruang administrasi sebelum mengikuti sesi materi tentang kurikulum, etika keperawatan, kompetensi perawat, dan budaya lokal Filipina. Menariknya, dua dosen Universitas Karya Husada, Dr. Blacius Dedi, SKM., M.Kep dan Dr. Ns. Dwi Indah Iswanti, M.Kep, berbalik peran menjadi guest lecturer di hadapan mahasiswa University of Baguio.
Laboratorium Mini Rumah Sakit dan Manekin Berteknologi Tinggi
Yang paling mencuri perhatian adalah fasilitas laboratorium keperawatan kampus tersebut, yang dirancang menyerupai rumah sakit mini lengkap dengan ruang operasi, ruang perawatan dewasa, ruang perawatan kritis, hingga ruang simulasi berisi manekin canggih yang bisa bersuara dan "merasakan" nyeri layaknya manusia. Ada pula fasilitas virtual reality yang memungkinkan mahasiswa merasakan suasana klinis secara digital, dan setiap alat di ruang sentral dilengkapi gambar serta SOP agar mudah diingat mahasiswa.
Menengok Rumah Sakit Rujukan dan Teknologi RJP Otomatis
Hari ketiga, giliran dua rumah sakit yang dikunjungi yaitu Baguio General Hospital and Medical Center (BGHMC), dan Cordillera Hospital of the Divine Grace (CHDG).
Baguio General Hospital and Medical Center (BGHMC) merupakan rumah sakit rujukan utama wilayah Cordillera, mahasiswa mendapat gambaran pelayanan kesehatan yang komprehensif mulai dari IGD, ICU, NICU, ruang perawatan serta ruang hemodialisis, hingga layanan HIV dengan nama “Kandili” yang artinya rumah, dikelola secara terintegrasi serta menjunjung kerahasiaan pasien.
Sementara di Cordillera Hospital of the Divine Grace (CHDG), merupakan rumah sakit swasta delapan lantai yang baru berdiri sejak 2017 dengan berbagai fasilitas yang menarik serta teknologi modern untuk menunjang kualitas kesehatan masyarakat kota Baguio diantaranya ada ruang operasi cathlab, transplantasi ginjal, hemodialisis dan kemoterapi. Mahasiswa juga dikenalkan pada alat Lund University Cardiac Assist System (LUCAS), perangkat kompresi dada otomatis untuk tindakan resusitasi jantung paru.
Menutup Kunjungan dengan Wisata Budaya
Di hari keempat, rombongan menikmati waktu untuk mengenal budaya dan beberapa tempat wisata Kota Baguio dan makan malam bersama untuk penyerahan sertifikat bagi dosen dan mahasiswa Universitas Karya Husada Semarang. Kegiatan resmi ditutup di hari kelima dengan mengikuti capping day, yaitu seremoni pemasangan kap dan janji mahasiswa keperawatan, sebelum turun melaksanakan praktik di lapangan.
Bekal Baru untuk Dunia Keperawatan Indonesia
Bagi para mahasiswa, pengalaman lima hari ini bukan sekadar jalan-jalan akademik. Mereka pulang membawa perspektif baru soal pembelajaran berbasis simulasi, kolaborasi interprofesional, pemanfaatan teknologi kesehatan, hingga pengelolaan tenaga perawat sebagai bekal yang diharapkan untuk bisa menjadi referensi dalam meningkatkan mutu pelayanan keperawatan di Indonesia.